Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Puisi Rendra

JANGAN TAKUT IBU Matahari musti terbit. Matahari musti terbenam. Melewati hari-hari yang fana ada kanker payudara, ada encok, dan ada uban. Ada gubernur sarapan bangkai buruh pabrik, Bupati mengunyah aspal, Anak-anak sekolah dijadikan bonsai. Jangan takut, Ibu! Kita harus bertahan. Karena ketakutan meningkatkan penindasan. Manusia musti lahir. Manusia musti mati. Di antara kelahiran dan kematian bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, serdadu-serdadu Jepang memanggal kepala patriot-patriot Asia, Ku Klux Klan membakar gereja orang Negro, Terotis Amerika meledakkan bom di Oklahoma Memanggang orangtua, ibu-ibu dan bayi-bayi, di Miami turis Eropa dirampok dan dibunuh, serdadu Inggris membantai para pemuda di Irlandia, orang Irlandia meledakkan bom di London yang tidak aman. Jangan takut, Ibu! Jangan mau gigertak. Jangan mau diancam. Karena ketakutan meningkatkan penjajahan. Sungai waktu menghanyutkan keluh-kesah mimpi yang meranggas. Keringat bumi ...

Puisi Chairil Anwar

AKU Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu Tidak juga kauTak perlu sedu sedan ituAku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuangBiar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan akan akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi   YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,   Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin   Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;   Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.   DO'A kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerd...